­

Mungkin aku terlahir pada masa yang tidak tepat dimana cinta tidak lebih dari sebuah dongeng indah pengantar tidur Dan ketika aku terbangun esok hari cerita pilu tentang cinta kembali terulang Betapa cinta yang “katanya” indah tak bisa aku temukan.

Perpustakaan Digital

Perpustakaan digital adalah perpustakaan yang mempunyai koleksi buku sebagian besar dalam bentuk format  digital dan bisa diakses dengan computer. Jenis perpustakaan ini berbeda dengan jenis perpustakaan konvensional yang berupa kumpulan buku tercetak, film mikro (microform dan microfiche), ataupun kumpulan kaset audio, video, dll. Isi dari perpustakaan digital berada dalam suatu komputer server yang bisa ditempatkan secara lokal, maupun di lokasi yang jauh, namun dapat diakses dengan cepat dan mudah lewat jaringan komputer.
Perbedaan “perpustakaan biasa” dengan “perpustakaan digital” terlihat pada keberadaan koleksi (Subrata, 2009:5). Koleksi digital tidak harus berada di sebuah tempat fisik, sedangkan koleksi biasa terletak pada sebuah tempat yang menetap, yaitu perpustakaan. Perbedaan kedua terlihat dari konsepnya. Konsep perpustakaan digital identik dengan internet atau komputer, sedangkan konsep perpustakaan biasa adalah buku-buku yang terletak pada suatu tempat. Perbedaan ketiga, perpustakaan digital bisa dinikmati pengguna dimana saja pengguna itu berada dan dengan tanpa terbatasnya waktu, sedangkan pada perpustakaan biasa pengguna menikmati di perpustakaan dengan jam-jam yang telah diatur oleh kebijakan organisasi perpusakaan tersebut.
Bila mengacu ke karangan Bush (1945) maka awal perpustakaan digital di Indonesia dimulai sejak komputer mulai digunakan di Indonesia. Bila mengacu ke pendapat Bush, maka perintis perpustakaan dimulai pada akhir tahun 1060-an atau awal 1970-an tatkala komputer mulai digunakan untuk automasi dafta majalah yang ada di beberapa perpustakaan Indonesia. Pada awal 1990-an hampir seluruh fungsi perpustakaan ditunjang dengan otomasi dalam jumlah dan cara tertentu. Fungsi-fungsi tersebut antara lain pembuatan katalog, sirkulasi, peminjaman antara perpustakaan, pengelolaan jurnal, penambahan koleksi, kontrol keuangan, manajemen koleksi yang sudah ada dan data pengguna. Dalam periode ini komunikasi data secara elektronik dari satu perpustakaan ke perpustakaan lainnya semakin berkembang dengan cepat.
Konsep dan ide perpustakaan digital pun dari tahun ke tahun mulai mengalami perkembangan seiring dengan beragamnya kebutuhan akan informasi oleh masyarakat. Berbagai macam aplikasi perpustakaan digital yang telah ada dan dikembangkan secara terus menerus, guna untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terutama para pengguna perpustakaan. Konsep dan ide tersebut berkaitan dengan berbagai faktor, seperti faktor layanan publik yang menjadi prioritas utama dan program unggulan pemerintah di bidang perpustakaan.
Beberapa aspek yang dipertimbangkan cukup penting dalam suatu digital library. Pengumpulan dan pengolahan data adalah salah satunya, dalam hal ini data yang dikumpulkan dalam berbagai bentuk dan format oleh karena itu diperlukan pengelompokan atau pengklasifikasian data yang terkumpul. Format dan bentuk content yang terkumpul dapat berupa artikel, jurnal, white paper, presentasi, majalah on-line, e-book dalam format word, pdf, HTML, dan lain-lain. Setelah pengumpulan data selesai dilakukan maka selanjutnya adalah pengklasifikasian data. Pengelompokan sumber-sumber data ini misalnya berdasarkan nama penulisnya, nama pembicara apabila file tersebut merupakan file presentasi, berdasarkan event, berdasarkan topik dan judul ataupun berdasarkan kriteria-kriteria lainnya . Kemudian data tersebut dipadukan dalam suatu sistem database tertentu. Selain itu diperlukan juga suatu interface antara pengguna, operator, administrator dan database-nya sendiri oleh karena itu dibuat beberapa fasilitas seperti fasilitas pendaftaran, layanan informasi dan transaksi, fasilitas penelusuran data, lain-lain.
Kebutuhan perpustakaan digital dalam membuat sebuah perpustakaan digital, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti: Pengguna (users); Pengguna perpustakaan digital bukan hanya berarti anggota perpustakaan melainkan juga pustakawan, staf operator perpustakaan, dan teknisi yang terlibat dalam perpustakaan digital. Perangkat keras (hardware); Perangkat keras yang dibutuhkan dalam mengembangkan sebuah perpustakaan digital tergantung pada seberapa banyak koleksi dan tujuan dibuatnya perpustakaan digital itu sendiri. Semakin besar perpustakaan, maka semakin banyak dan semakin canggih perangkat keras yang dibutuhkan untuk mendukung operasional perpustakaan. Perangkat Lunak (software); Perangkat lunak yang digunakan dalam membangun perpustakaan digital tergantung pada pihak pembuat perpustakaan digital apakah akan menggunakan perangkat lunak produksi sendiri atau menggunakan perangkat lunak yang sudah ada. Jaringan (network); Jaringan komputer merupakan bagian dari perpustakaan digital yang penting sebagai penghubung berbagai sumber daya atau resources seperti perangkat teknologi dan koleksi dokumen yang ada di perpustakaan. Sebuah jaringan atau network pada dasarnya terdiri dari komputer, NIC (Network Interface Card), modem router, dan jaringan telepon. Data; Data berperan sebagai sumber yang diperlukan untuk menciptakan suatu informasi yang terdiri dari banyak karakter. Dalam perpustakaan, dikenal suatu data yang sudah terstruktur yang digunakan sebagai identifikasi untuk mengelola dokumen perpustakaan yang disebut dengan metadata. Manual; Merupakan dokumentasi yang berisi penjelasan mengenai peraturan dalam menggunakan perangkat keras dan lunak perpustakaan. Manual atau prosedur harus dapat dipahami oleh seluruh pengguna perpustakaan untuk mengoptimalkan penggunaan perpustakaan digital. Dalam menentukan peraturan-peraturan manual, diperlukan komunikasi dengan pengguna perpustakaan secara berkala. Evaluasi; Jika perpustakaan digital telah dibuat, perlu dilakukan evaluasi untuk menentukan apakah perpustakaan digital secara teknis sesuai dengan perencanaan, efektif dan efisien dari segi ekonomi dalam memberikan pelayanan kepada anggota perpustakaan, dan apakah perpustakaan diterima oleh seluruh pengguna perpustakaan.
Perpustakaan digital di Indonesia telah dikembangkan terutama oleh perguruan tinggi. Telah terbentuk beberapa jaringan perpustakaan digital seperti Indonesia Digital Library Network, Spektra Virtual Library, dan yang paling baru adalah Garuda (Garba Rujukan Digital). Perpustakaan digital yang dibangun oleh perguruan tinggi di Indonesia tidak murni hanya menyediakan dan mengorganisasi koleksi dan layanan secara digital, tetapi memadukannya dengan bentuk perpustakaan yang konvensional, dimana kebanyakan koleksi perpustakaan tersedia dalam bentuk tercetak dan digital. 
Sebenarnya secara individu, pustakawan Indonesia tidak kalah dengan pustakawan asing. Banyak pustakawan Indonesia lulusan luar negeri yang memiliki kemampuan tidak kalah dengan pustakawan asing. Hanya saja bila kemampuan tersebut dikaitkan dengan institusi atau perpustakaan, maka pustakawan Indonesia akan jauh melorot kemampuannya. Perpustakaan PT di Indonesia masih belum memiliki anggaran yang sesuai standar. Pada banyak perguruan tinggi kelas dunia, anggaran perpustakaan sedikit-dikitnya 5% dari anggaran universitas sementara Indonesia baru mencantumkan penambahan koleksi sedikit-dikitnya 2% ari koleksi seluruhnya atau sedikit-dikitnya 200 judul (Standar Nasional Indonesia 2009). Perpustakaan digital di negara lain sudah mulai menawarkan jasanya ke pemakai seperti Blog, informatika social semacam Facebook, Twsitetrs.
Perpustakaan digital merupakan lingkungan yang menantang bagi pustakawan. Dengan tiadanya jasa fisik yang diberikan, maka peran pustakawan berubah dari fasilitator antara pemakai dengan sumber day informasi menjadi fasiltator antara pemakai dengan sistem. Kepustakawanan dapat saja diganti dengan istilah lai n amun etos utamanya tetap yaitu jasa. Jasa tersebut adalah menyediakan muatan informasi (bahara) dalam cara yang paling sesuai bagi pemakai.
Jasa yang diberikan perpustakaan bagi pemakai dilakukan di dunia fisik (di perpustakaan) mau pun duniadigital. Jasa dalam dunia digitakll tidak dibataso oleh fisik perpustakaan, isi yang diberikan dapat berbentuk fisik atau digital, lokal dan/atau jarak jauh dan maya. Sungguh pun demikian jasa perpustakaan tetap berbasis kerangka sosial dan institusional, dibentuk, dipengaruhi dan dibentuk ulang oleh perubahan sosial dan teknologi. Perubahan sosial meliputi pterubahan politik, ekonomi, penddidikan, hukum dsb., sedangkan perubahan teknologi dapat berupaperangkat keras komputer, fasilitas jejaring, perangkat lunak dan teknologi berkaita, alat, standar dll. 

0 komentar:

Posting Komentar